Pokok-pokok Educational Planning


PERENCANAAN PENDIDIKAN
Model Perencanaan Pendidikan
1.       Comprehensive planning model. Model ini digunakan untuk menganalisis perubahan dalam sistem pendidikan secara keseluruhandan untuk mengarahkan /membimbing perencanaan pendidikan menuju pencapaian tujuan sosial dan ekonomi, pada dasarnya model ini merupakan seperangkat tujuan bagi sistem pendidikan.
2.       Target setting model. model ini menekankan pada perlunya perencana menentukan model dan metode untuk melakukan proyeksi target-target perencanaan guna memperkirakan perkembangan sistem ekonomi dan sosial, model ini mencakup :
a.       Model analisis demografis dan  proyeksi penduduk
b.       Model dan metode proyeksi pendaftaran sekolah
c.        Model dan metode proyeksi persyaratan tenaga kerja.
3.       Model for administration and organiational analisys. Model ini dimaksudkan untuk melihat bagaimana kondisi administrasi dan organisasi dalam perencanaan pendidikan. Dalam model ini mencakup jenis model dan metode yang dapat dipergunakan yaitu :
a.       Model untuk menggambarkan struktur sistem pendidikan dan hirarki organisasi
b.       Model keputusan dan metode analisis keputusan.
c.        Model dan metode penjadwalan
4.       Costing models and  cost effectiveness models (model pembiayaan dan model keefektivan biaya). Dalam model ini perencanaan pendidikan didasarkan pada analisis biaya dan keefektivan penggunaan biaya.
5.       Model for studying eduational effects. Dalam model ini perencanaan pendidikan mengacu pada pengaruh atau dampak pendidikan dalam konteks pembangunan secara keseluruhan
Sementara  itu menurut Karl A. Fox dalam bukunya economic analisys for educational planning (1972) model perencanaan pendidikan dapat dikelompokan/diklasifikasikan ke dalam dua kelompok besar yaitu :
a.       Algorithms model. Model terstruktur dengan solusi yang dapat dikalkulasikan
b.       Heuristic model. Model yang bersifat terbuka     
Pendapat Douglas M. Windham
Teknik/pendekatan perencanaan pendidikan  seperti Permintaan masyarakat, tingkat balikan, dan perencanaan SDM  tak akan pernah  responsif atas motivasi individu pelajar serta insentif ekonomi. Dalam perencanaan pendidikan terdapat dua jenis rencana:
·         Perencanaan Struktural. Yaitu perencanaan yang terjadi di pusat sistem pendidikan.
·         Perencanaan Individu. Yaitu perencanaan yang terjadi pada unit keluarga dalam bentuk pembuatan keputusan.
Dalam kenyataannya sering terjadi perbedaan antara perencana pendidikan di pusat dengan keputusan  individu. Perencanaan pusat melihat masalah secara agregat seperti pengeluaran per siswa,  rata-rata ratio guru murid, kualifikasi guru, buku teks per siswa dsb, sementara pada tataran individu dihadapkan pada realitas kuantitatif sekolah tertentu, guru tertentu, dan jumlah serta kualitas material tertentu. Perbedaan ini menunjukan perlunya pendidikan mempertimbangkan aspek mikro dalam kajian perencanaan  pada semua tingkat dan bentuk. Hal ini disebabkan seluruh outcome pendidikan, tak peduli suksesnya secara makro dalam sistem pendidikan, mutlak ditentukan oleh individu guru, murid, dan keluarga yang merasakan sistem tersebut. Murid lebih dipengaruhi oleh orang tua dan guru ketimbang oleh administrator lokal, dan lebih dipengaruhi oleh administrator lokal ketimbang oleh birokrat perencanaan  pusat.
Kurangnya integrasi perencanaan pendidikan pemerintah dengan perencanaan umum sosial ekonomi mempertajam perbedaan dengan perencanaan individu. Secara individu, orang tua harus menghubungkan pendidikan anaknya dengan pekerjaan dan efeknya di masa datang termasuk kemungkinan upahnya. Oleh karena itu perencanaan pendidikan perlu mengambil alternatif lain dan bukan tersentralisasi,dengan maksud mengurangi dilemma yang dialami perencana pendidikan.
Peran Pembuatan Keputusan individual
Sistem pendidikan suatu bangsa saling terkait dengan sistem ekonomi dan sosial yang lebih luas. Dalam hubungan ini perencanaan dan penelitian pendidikan yang didasarkan pemahaman mendalam tentang mekanisme pembuatan keputusan individu dalam pendidikan dapat membantu merasionalkan sistem pendidikan, sehingga pembuat keputusan/kebijakan dan peneliti mudah memahami sebab dan akibat ketidak efisienan dan ketidak merataan yang terjadi dalam suatu sistem pendidikan. Untuk itu diperlukan informasi yang akurat melalui upaya memperbaiki arus informasi pada konsumen pendidikan, memperbaiki arus informasi tentang efek insentif/kebijakan yang dilakukan pemerintah, dan menciptakan pola insentif baru secara menyeluruh dengan merubah kebijakan pendidikan yang ada.
Perencana perlu memahami kondisi lapangan agar dalam pembuatan keputusan informasi yang digunakan relevan dan akurat, fakta menunjukan bahwa perencana kurang memahami kondisi lapangan berkaitan dengan mekanisme individu membuat keputusan, sehingga hasil suatu kebijakan tidak mencapai hasil yang diharapkan.
Dengan uraian di atas, diharapkan perencana dan peneliti pendidikan akan berkonsentrasi lebih banyak pada variasi dalam pendidikan ketimbang pada kesatuan, terutama di negara berkembang paska penjajahan yang sering dihadapkan pada masalah serius dalam kekuarangan sumberdaya pendidikan.
Faktor demografi dan pendidikan
Demografi merupakan studi tentang struktur dan komposisi kependudukan. Pendidikan sangat banyak ditentukan atau dipengaruhi oleh kondidi penduduk, sehingga dalam melakukan suatu perencanaan pendidikan aspek kependudukan tidak dapat diabaikan, demikian juga dalam hal pelayanan pendidikan yang pada dasarnya diarahkan untuk kepentingan penduduk (dalam suatu bangsa/daerah). Beberapa aspek demografi yang penting adalah :
q  Laju pertumbuhan penduduk
q  Tingkat kelahiran
q  Tingkat kematian
q  Migrasi
q  Struktur penduduk menurut sosial ekonomi
q  Penyebaran penduduk secara geografis
q  Komposisi penduduk menurut usia
q  Komposisi penduduk menurut jenis kelamin
q  Komposisi penduduk desa kota
Faktor-faktor di atas jelas akan mempengaruhi pada perencanaan dan penyelenggaraan pendidikan dalam hal-hal sebagai berikut :
q  Pemerataaan pendidikan
q  Keadilan pendidikan
q  Prasarana pendidikan
q  Anggaran pendidikan
q  Kualitas pendidikan
q  Komposisi pendidikan umum dan kejuruan